“Daripada nggak ada yang kupikir”, jawabku. Kedua kakinya mulai ditarik kebelakang, selakangannya menindih mulutku, bibir dan lidahkupun makin berpolah diseluruh bagian kemaluannya. Bokepindo “Aku nggak rugi, kok”, jawabnya santai. Kuperlambat gerakanku untuk memperpanjang babak ini. Tok, mmh..”. Rupanya Iswani punya pikiran yang sama denganku. “Terus yang mengantar Mbak ke bus di Balikpapan, suami yang ke berapa?”, tanyaku halus. Berusaha menyembunyikan pikiranku kujawab seadanya, “Ah nggak melamun kok, cuma membayangkan rasanya dicubit hantu seperti yang Mbak tadi bilang”. “Memangnya kamu sudah kenal, Tok?”, tanyanya. “Mbak, boleh minta rotinya!”, kataku dengan halus. Beberapa saat kemudian tubuh Iswani bergetar seiring dengan klimkaksnya. “Makan aja, kalau tahu kamu baru bangun sudah kubelikan makan tadi”, katanya. “Pingin tahu rasanya?”, tanyanya dengan senyum menggoda dan menuju ke arahku. Aku masih cuek dengan keadaan sekelilingku tapi Iswani agak gelisah dan mengeluhkan ajakanku ke kafetaria.




















