“Hahahaha,” balasnya, “Aku ini sudah banyak pengalaman lho, hahahaha.” Bullshit, pikirku, sekarang aku mengerti kalau dia masih kecewa. Makin lama ia semakin cepat menyeponk-ku, namun tidak begitu cepat sih dan kurang nikmat karena tangannya masih menahannya. Bokep Yang menjadi mentor di grupku adalah Rini Idol.Umurku lebih tua, jadi Rini juga enggan kalau aku memanggilnya mbak ataupun cici. Tangan Rini memukul-mukul kardus, tempat kepalanya bersandar, rasanya susah kalau berkomunikasi dengan posisi begini. Rini tersenyum, “udah gak papa kok, makasih ya…” balasnya. Aku menciumnya, ternyata ia tak sepenuhnya menolakku. Akupun berlari ke arah dia. Rini menangis kencang, tanganku yang tadi membelai-belai kepalanya kini menekannya sekencang-kencangnya.……Aku menceritakan masalah wisudaku di hari Sabtu, Rini menyarankan agar aku tidak lama-lama di sana, karena semua alumni sekarang sudah tahu kalau aku ini calon superstar, memang sih aku rugi tidak bisa berfoto-foto lama-lama, Rini juga menyarankan aku untuk menyewa




















