“ Mbak Fera, telepon. Bokep Wajahku merah padam. Mbak Fera merapihkan pakaiannya lalu pergi menjawab telepon. Kejantananku melemah. Apakah perlu menhitung kancing. Aku langsung memasukkan ke saku baju tanpa mencermati nomor-nomornya. Tapi kakiku saja yang seperti memagari badannya. “ Jangan cuma ditunjuk dong, dipegang boleh. ”
Yes..! “ Mau dipijat atau mau baca, ” ujarnya ramah mengambil majalah dari hadapanku,
“ Ayo tengkurap..!!! Jari tangan mulai dingin. Tidak lama wanita itu mengetuk langit-langit angkot. Untung ada tissue yang tercecer, sehingga ada alasan buat Fera. Sekali. “ Ngapadian sih di situ..? Ayo cepat dia hampir selesai membersihkan belakang selangkangan. Betisnya mulus ditumbuhi bulu-bulu halus. Padahal, wajah wanita setengah baya yang di lehernya ada keringat sudah terbayang.




















