Ia membersihkan punggungku dengan handuk hangat. Aroma asli seorang wanita. Bokepindobaru Makin lama suara sepatu itu seperti mengutukku bukan berbunyi pletak pelok lagi, tapi bodoh, bodoh, bodoh sampai suara itu hilang.Aku hanya mendengus. Hah..? Aku memandang ke arah lain mengindari adu tatap. Ayo..!“Mbak.., pahaku masih sakit nih..!” kataku memelas, ya sebagai alasan juga mengapa aku masih bertahan duduk di tepi dipan.Ia berjongkok mengambil sapu tangan. Masih menutupi diri dengan tabloid. suara itu lagi, suara wanita setengah baya yang kali ini karena mendung tidak lagi ada keringat di lehernya. Ia menurunkan sedikit tali kolor sehingga pinggulku tersentuh. Eh bisa juga wanita setengah baya ini ramah kepadaku.Lalu ia membersihkan pahaku sebelah kiri, ke pangkal paha. Aku mengikutinya.




















